Hubungi kami +62218763609

Fitnah Kubra (jilid 1) Tragedi Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan

Rp100.000
Penulis Taha Husain
Penerjemah Moch. Mundir Ikhsan
Kategori Tarikh/Sejarah
Halaman 404
Kertas HVS 70 gr
Jenis Cover Soft cover
ISBN 978-602-1361-98-6
Berat 200 gram
Dimensi 14,8 x 21 cm

Peristiwa sejarah, betapapun suram, absurd, dan menyakitkan, perlu diungkap kembali sebagai bahan pelajaran yang tak ternilai harganya. Umat Islam pernah mengalami peristiwa paling memilukan sepeninggal Rasulullah, yakni serentetan fitnah politik yang menyebabkan terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga dalam yang memimpin umat sekitar 12 tahun. Enam tahun pertama, kepemimpinannya  berjalan baik. 

Ia melanjutkan perjuangan Abu Bakar dan Umar, dengan konsistensi dakwah, sifat amanah dan dermawan. Tak ayal, ia mendapat tempat di hati masyarakat. Enam tahun berikutnya, pola dan sistem kepemimpinan Utsman mulai berubah, termakan usianya yang senja. Banyak keputusan Utsman dipengaruhi kolega dekatnya sehingga menimbulkan rasa tidak puas, cemburu, dendam hingga permusuhan di antara masyarakat.

Dari benih-benih ketidakpuasan itulah muncul muara perpecahan pertama dalam umat Islam, yang dikenal dengan peristiwa Fitnah Kubra. Apa pasal? Peristiwa itu memicu serentetan peristiwa kelam, mulai dari Perang Jamal, Perang Siffin, sampai Tragedi Karbala, yang terjadi di abad permulaan sejarah Islam, seolah-olah membungkam kesadaran kolektif umat akan arti pentingnya semangat kebersamaan. 

Buku Fitnah Kubra karya Syekh Taha Husein ditulis dari rujukan sejarah paling obyektif dan komprehensif. Dengan gaya bahasa reportase dan analisis historis mendalam, pembaca diajak mengarungi asal-muasal terjadinya Fitnah Kubra jilid pertama ini. Syekh Taha Husein merekonstruksi penggalan-penggalan sejarah yang tercecer dan menyatukannya menjadi narasi yang utuh sekaligus mengkritisi kekeliruan cerita yang beredar seputar Fitnah Kubra.

Tentang Penulis: Taha Husain

Taha Husein (1889-1973 M) dilahirkan di dusun Izbet el Kilo, Al-Minya, Mesir. Ia anak ke-7 dari 12 bersaudara dalam keluarga yang sederhana dan taat beragama. Sejak usia 3 tahun, ia divonis buta akibat salah perawatan. Dengan keterbatasannya itu, ia tetap gigih melanjutkan studinya. Pendidikannya dimulai di Kuttab (madrasah). Lantas ia dikirim melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo selama 10 tahun. Dari situ ia mengambil kursus bahasa Prancis serta mengikuti berbagai seminar di Universitas Kairo. Taha lalu melanjutkan studinya di Prancis dan memperoleh gelar (Master/MA) dari Universitas Montpellier dan gelar (Doktor/PhD) Universitas Sorbone Paris di Prancis.

Taha Husein menikah dengan Suzanne Bresseau (1895–1989 M) dan dikaruniai 2 anak, Amina dan Moenis. Sepulang dari Prancis, ia bekerja sebagai dosen di Universitas Kairo, Universitas Alexandria dan sempat memangku jabatan Rektor Universitas Faruq. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sastra dan Sejarah. Ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan Mesir masa pemerintahan partai Wafd. Motonya, “Pendidikan laksana air yang kita minum dan udara yang kita hirup, dan menjadi hak setiap manusia”. Tak heran, selama menjadi Menteri, ia memberlakukan pendidikan gratis bagi seluruh warga Mesir.

Taha Husein dikenal sebagai Bapak Sastra Arab. Di tengah keterbatasan fisiknya Taha Husein mampu menyelesaikan pendidikan ke jenjang tertinggi dan menulis ratusan buku.